Wednesday, 12 March 2014

Pertemuan Keempat Kelas Bahasa Indonesia, 12 Maret 2014

Halo semuanya, langsung saja ya.
Pada pertemuan keempat kali itu, kebetulan jadwal kelas Bahasa Indonesia crash dengan acara yang diselenggarakan oleh para mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual), yaitu acara UMN SCREEN. UMN SCREEN adalah acara yang lebih dikhususkan bagi kebanyakan mahasiswa DKV-Digital Cinematography dan Animasi.
Karena mayoritas di kelas Bahasa Indonesia adalah mahasiswa Cinema, jadi dosen kami Ibu Niknik M. Kuntarto membolehkan kami untuk skip pada mata kuliah untuk mengikuti acara UMN SCREEN. Namun, beliau tidak hanya membolehkan kami untuk ikut acara itu saja tetapi juga menugaskan kami untuk membuat review tentang film-film yang diputar di acara tersebut.
Berikut beberapa review film yang telah kami ringkas:


JOSHUA
Sutradara: Alvin Ardiansya
Film yang menceritai tentang masa anak – anak yang sering kerap terjadi dan juga lelucon atau guyolan yang dianggap seorang anak itu adalah kenyataan , pada film ini menjelaskan seorang anak yang menjadi juragan kelereng dimana ia menjual semua kelereng – kelereng yang ia miliki untuk menikahi seorang gadis kecil seangkatannya akibat ia menciumnnya , namun ia menciumnnya tidak dengan sengaja melainkan karena kesalah pahaman ,kemudian pada masa kita kecil kita mengannggap bahwa ciuman dapat membuat kita hamil sehingga mereka sangat takut akan hal tersebut , dan anak muda yang bernama joshua punya kebranian untuk menikahi sebagai penanggung jawaban.


KUNANG – KUNANG
Sutradara: Zidny Nafian
Film yang menjelaskan tentang orang yang tinggal jauh dari perkotaan dimana ia hanya hidup dengan adiknya mereka tidak memiliki alat pencahayaan seperti lampu namun demi menghindari ketakutan adiknya akan kegelapan ia mencoba untuk menca
ri pencahayaan yang dapat menerangi rumah ia sehingga ia mesti terbawah oleh sebuah mobil ke kota yang penuh akan lampu disana lah dmulai penjelajahannya ia mulai menemukan sumber – sumber penerangan namun ia sangat susah untuk meraihnya , kemudian ia menemukan sebuah cahaya yang dapat bergerak yaitu kunang – kunang itu sendiri makan ia berusaha untuk meraihnya dan membuat sebagai cahaya untuk penerangan

IRIS
Sutradara: Dira
Film yang menjelaskan bahwa warna itu adalah tolak ukur untuk setiap orang dimana film ini membawah kita
kepada penglihatan dari seorang yang mengalami buta warna parsial dimana kita dapat melihat apa yang dilihat oleh orang buta warna tersebut , hal ini membuat kita menarik karena  kita sendiri yang merasa hidup normal dapat merasakan sendiri bagaimana jika kita menjadi orang yang mengalami buta warna , dan bagaimana orang buta warna ingin sekali melihat warna yang ia merasa ia ingin lihat secara benar

RUMAH SETELAH BADAI
Vonny Kanisius
Film pendek ini menceritakan tentang Dian,  seorang gadis yang ingin mengumpulkan seluruh anggota keluarganya. Ayah dan ibunya sudah bercerai, Dian dan dua saudaranya Tiara dan Bayu tinggal bersama Ibu. Dengan cara merayakan ulang tahun, Dian berdalih untuk sekaligus mengundang ayahnya untuk datang makan malam bersama keluarganya.
Saat makan malam berlangsung, yang justru Dian rasakan hanyalah sebuah makan malam yang kaku tanpa ada pembicaraan, walaupun ada itu hanya omongan ‘cerewet’ dari si Ibu saja yang mempunyai karakter sensitif dan sifat yang mudah marah. Dian dan adiknya Bayu berusaha untuk membuat suasana makan malam menjadi lebih cair namun yang di dapat hanyalah kecanggungan yang mereka alami makin besar saja. 
Saat itu yang Dian mau hanyalah agar keluarganya bisa saling menyapa atau cair dan bisa menjadi keluarganya yang dulu walaupun kedua orangtuanya sudah bercerai. Saat merayakan ulang tahunnya –pun , Dian merasa semua keluarganya tidak bahagia, apalagi Ibunya yang selalu memasang muka suram di depan ketiga anaknya di tambah lagi saat mantan suaminya datang saat makan malam. Di akhir makan malam, Dian hanya bisa terdiam sambil memebereskan bekas makan malam tadi. Sambil Dian membereskan bekas makan, Bayu sang pensulap cilik mengangkat tangannya lurus dan membentuk kedua tangannya seperti ‘framing’ pada meja makan, dia mengimajinasikan sebuah makan malam yang santai dan ceria penuh tawa dari sebuah keluarga yang bahagia, namun saat ia turunkan kembali tangannya yang ia lihat hanyalah meja kosong dan bekas tempat makan malam yang kaku, tidak ada keceriaan sama sekali. Dian dan Bayu justru merindukan hal-hal ini.
Pada akhirnya mereka semua hanya menjalankan aktifitas mereka secara individualis, tanpa mempedulikan perasaan satu sama lain.  Apalagi kakak dari Dian yaitu Tiara yang sibuk dengan teleponnya begitu juga si Ibu yang entah melakukan apa. Dian kembali terdiam dan masih tetap meberekan bekas makan malam dan hiasan-hiasan ulang tahunnya yang tadi ia buat sendiri. 

Review film di atas adalah beberapa kumpulan dari beberapa anggota kelompok kami, walaupun hari itu kami tidak dapat bintang tapi di minggu ke depannya masih banyak bintang-bintang. 

"SELAMA IBU NIKNIK BERSAMA KAMI MASIH BANYAK BINTANG-BINTANG YANG BERTEBARAN"

-SALAM OKTOBER!!


No comments:

Post a Comment