Pada pertemuan keempat kali itu, kebetulan jadwal kelas Bahasa Indonesia crash dengan acara yang diselenggarakan oleh para mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual), yaitu acara UMN SCREEN. UMN SCREEN adalah acara yang lebih dikhususkan bagi kebanyakan mahasiswa DKV-Digital Cinematography dan Animasi.Karena mayoritas di kelas Bahasa Indonesia adalah mahasiswa Cinema, jadi dosen kami Ibu Niknik M. Kuntarto membolehkan kami untuk skip pada mata kuliah untuk mengikuti acara UMN SCREEN. Namun, beliau tidak hanya membolehkan kami untuk ikut acara itu saja tetapi juga menugaskan kami untuk membuat review tentang film-film yang diputar di acara tersebut.
Berikut beberapa review film yang telah kami ringkas:
JOSHUA
Sutradara: Alvin Ardiansya
Film yang menceritai tentang masa anak – anak yang sering
kerap terjadi dan juga lelucon atau guyolan yang dianggap seorang anak itu
adalah kenyataan , pada film ini menjelaskan seorang anak yang menjadi juragan
kelereng dimana ia menjual semua kelereng – kelereng yang ia miliki untuk
menikahi seorang gadis kecil seangkatannya akibat ia menciumnnya , namun ia
menciumnnya tidak dengan sengaja melainkan karena kesalah pahaman ,kemudian
pada masa kita kecil kita mengannggap bahwa ciuman dapat membuat kita hamil
sehingga mereka sangat takut akan hal tersebut , dan anak muda yang bernama
joshua punya kebranian untuk menikahi sebagai penanggung jawaban.
KUNANG – KUNANG
Sutradara: Zidny Nafian
Film yang menjelaskan tentang orang yang tinggal jauh dari
perkotaan dimana ia hanya hidup dengan adiknya mereka tidak memiliki alat
pencahayaan seperti lampu namun demi menghindari ketakutan adiknya akan
kegelapan ia mencoba untuk menca
ri pencahayaan yang dapat menerangi rumah ia
sehingga ia mesti terbawah oleh sebuah mobil ke kota yang penuh akan lampu
disana lah dmulai penjelajahannya ia mulai menemukan sumber – sumber penerangan
namun ia sangat susah untuk meraihnya , kemudian ia menemukan sebuah cahaya
yang dapat bergerak yaitu kunang – kunang itu sendiri makan ia berusaha untuk
meraihnya dan membuat sebagai cahaya untuk penerangan
IRIS
Sutradara: Dira
Film yang menjelaskan bahwa warna itu adalah tolak ukur
untuk setiap orang dimana film ini membawah kita
kepada penglihatan dari
seorang yang mengalami buta warna parsial dimana kita dapat melihat apa yang
dilihat oleh orang buta warna tersebut , hal ini membuat kita menarik
karena kita sendiri yang merasa hidup
normal dapat merasakan sendiri bagaimana jika kita menjadi orang yang mengalami
buta warna , dan bagaimana orang buta warna ingin sekali melihat warna yang ia
merasa ia ingin lihat secara benar
RUMAH SETELAH BADAI
Vonny Kanisius
Film pendek
ini menceritakan tentang Dian, seorang
gadis yang ingin mengumpulkan seluruh anggota keluarganya. Ayah dan ibunya
sudah bercerai, Dian dan dua saudaranya Tiara dan Bayu tinggal bersama Ibu.
Dengan cara merayakan ulang tahun, Dian berdalih untuk sekaligus mengundang
ayahnya untuk datang makan malam bersama keluarganya.
Saat makan
malam berlangsung, yang justru Dian rasakan hanyalah sebuah makan malam yang
kaku tanpa ada pembicaraan, walaupun ada itu hanya omongan ‘cerewet’ dari si
Ibu saja yang mempunyai karakter sensitif dan sifat yang mudah marah. Dian dan
adiknya Bayu berusaha untuk membuat suasana makan malam menjadi lebih cair
namun yang di dapat hanyalah kecanggungan yang mereka alami makin besar
saja.
Saat itu
yang Dian mau hanyalah agar keluarganya bisa saling menyapa atau cair dan bisa
menjadi keluarganya yang dulu walaupun kedua orangtuanya sudah bercerai. Saat
merayakan ulang tahunnya –pun , Dian merasa semua keluarganya tidak bahagia,
apalagi Ibunya yang selalu memasang muka suram di depan ketiga anaknya di
tambah lagi saat mantan suaminya datang saat makan malam. Di akhir makan malam,
Dian hanya bisa terdiam sambil memebereskan bekas makan malam tadi. Sambil Dian
membereskan bekas makan, Bayu sang pensulap cilik mengangkat tangannya lurus
dan membentuk kedua tangannya seperti ‘framing’ pada meja makan, dia
mengimajinasikan sebuah makan malam yang santai dan ceria penuh tawa dari
sebuah keluarga yang bahagia, namun saat ia turunkan kembali tangannya yang ia
lihat hanyalah meja kosong dan bekas tempat makan malam yang kaku, tidak ada
keceriaan sama sekali. Dian dan Bayu justru merindukan hal-hal ini.
Pada
akhirnya mereka semua hanya menjalankan aktifitas mereka secara individualis,
tanpa mempedulikan perasaan satu sama lain.
Apalagi kakak dari Dian yaitu Tiara yang sibuk dengan teleponnya begitu
juga si Ibu yang entah melakukan apa. Dian kembali terdiam dan masih tetap
meberekan bekas makan malam dan hiasan-hiasan ulang tahunnya yang tadi ia buat
sendiri.
Review film di atas adalah beberapa kumpulan dari beberapa anggota kelompok kami, walaupun hari itu kami tidak dapat bintang tapi di minggu ke depannya masih banyak bintang-bintang.
"SELAMA IBU NIKNIK BERSAMA KAMI MASIH BANYAK BINTANG-BINTANG YANG BERTEBARAN"
-SALAM OKTOBER!!



No comments:
Post a Comment